Hendi Prio Santoso Penerus Perjuangan PGN

Hendi Prio Santoso adalah Dirut PT. Perusahaan Gas Negara (PT. PGN) yang telah menjabat selama 2 tahun berturut-turut. Prestasi gemilangnya membuat ia dipercaya untuk dapat memimpin PGN dalam waktu yang cukup lama. Pria lulusan BBA Keuangan dan Ekonomi Universitas Houston, Texas, Amerika Serikat ini telah membawa PGN melewati masa sulitnya. Disaat krisis ekonomi global di tahun 2008 dan banyaknya kebocoran gas Hendi ditugaskan untuk membangun kembali PGN. 

Hendi berusaha membangun infrastrukur ke seluruh wilayah dengan membuat jalur atau jalan tol gas dari ujung Sumatra hingga Bali dengan menggunakan pipa. Ia juga bekerja sama dengan pemerintah DKI Jakarta dengan menjadikan gas bumi sebagai bahan bakar bus Transjakarta. Dengan peningkatan fasilitas sarana dan prasarana, pendistribusian gas bumi semakin besar. Hal ini meningkatkan jumlah penjualan dan pendapatan dari PGN. Dan di tahun 2011 PGN membukukan laba bersih sebesar Rp. 5,93 Triliun. Jumlah yang jauh lebih baik dibanding saat pertama kali ia pimpin.

Tidak hanya membangun infrastruktur, Hendi juga menjaga agar PGN bersih dari korupsi. Dengan menyusun dan menerapkan kode etik karyawan yang baru, PGN secara perlahan menjadi perusahaan bersih korupsi. Kode etik baru memberikan panduan praktis tentang cara menangani konflik kepentingan, korupsi,  suap, gratifikasi, manajemen informasi dan lain-lain. Kode etik ini membuat upaya Hendi Prio Santoso ini terwujud.

Hendi Prio Santoso telah berhasil melanjutkan perjuangan pendahulunya dalam membangun PGN menjadi perusahaan gas terbaik. Saat ini PGN telah membangun dan mengoperasikan pipa gas bumi lebih dari 7.100 kilometer (km). Jumlah ini setara 76% pipa gas bumi seluruh Indonesia. Sejak puluhan tahun silam, PGN terus membangun jaringan gas bumi di berbagai daerah, semua dilakukan untuk mewujudkan cita-cita ketahanan energi bagi Indonesia.

Sri Budi Mayaningsih, salah satu pejabat senior di PGN, mengungkapkan, tak mudah bagi PGN untuk membangun pipa gas bumi nasional. "Kerja keras, integritas dan cucuran keringat dan air mata yang membuat PGN saat ini dapat sejajar dengan perusahaan migas kelas dunia dan BUMN gas terbesar di Indonesia," kata Sri Budi Mayaningsih yang saat ini menjabat sebagai Direktur Utama PT PGAS Telekomunikasi Nusantara, anak usaha PGN pada Rabu (27/7/2016).

"Apalagi ini dilakukan sejak era 1970-an di mana harga gas terpaksa dijual dengan murah, karena pada periode itu harga BBM masih murah karena disubsidi pemerintah bahkan sebagian dari impor," tambahnya. Wanita yang akrab disapa Maya ini mengungkapkan, selama beberapa tahun bisnis PGN saat itu hanya menyalurkan gas buatan untuk kebutuhan energi di sektor rumah tangga dan penerangan jalan raya yang merugi. Namun para pimpinan dan karyawan PGN tak patah arang.

PGN melakukan inovasi dengan sedikit mengubah pola bisnisnya yang sebelumnya menyalurkan gas buatan menjadi menyalurkan gas bumi melalui pipa. Ini dilakukan pada periode 1974. Langkah ini bisa dibilang nekad karena saat itu penggunaan gas bumi untuk rumah tangga, komersial, industri dan pembangkit listrik belum berkembang karena harga BBM masih murah.

"Bahkan pada 1985, PGN harus menjual sebidang tanah di Jalan Zainul Arifin, Jakarta Pusat, untuk membiayai pengembangan pipa gas dan gaji pegawai," ungkap Maya. PGN tetap optimis dengan jalur bisnis mendistribusikan gas melalui pipa gas. Salah satu pertimbangannya, Indonesia sudah banyak bergantung pada BBM impor yang dijual murah (subsidi) dan ini terus membebani keuangan negara. Sementara kata Maya, Indonesia memiliki produksi gas bumi yang cukup besar dan cadangan gas yang berlimpah, serta bisa menggantikan impor BBM selama ini.

PGN kemudian melakukan pioneering dengan melakukan pembangunan infrastruktur pipa gas bumi di berbagai daerah. Salah satu proyek besar adalah proyek pipa gas transmisi South Sumatera West Java (SSWJ) dengan panjang lebih dari 1.000 km. Pengembangan pipa-pipa gas distribusi pun makin terus dilakukan sehingga memperluas pemanfaatan gas bumi bagi masyarakat.

"Dengan kerja keras, cucuran keringat dan air mata, PGN berhasil menyelesaikan pembangunan infrastruktur gas bumi tersebut. Hasilnya, PGN mulai rutin mencetak laba dan memberikan dividen kepada negara, hingga sampai saat ini PGN menjadi salah satu BUMN terbesar di Indonesia yang memberikan sumbangsih kepada negara," ungkap Maya lagi.

Saat ini PGN telah membangun dan mengoperasikan lebih dari 7.100 km pipa gas bumi, yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Pipa-pipa gas tersebut memasok gas bumi yang efisien dan ramah lingkungan ke lebih dari 107.690 rumah tangga pelanggan PGN, 1.857 usaha kecil, mal, restoran, hotel, rumah sakit, serta 1.529 industri skala besar dan pembangkit listrik.

Pelanggan PGN tersebar di berbagai wilayah mulai dari Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Utara dan Sorong Papua.

"PGN tidak lantas diam, PGN makin agresif membangun infrastruktur pipa gas, SPBG, MRU (SPBG mobile), dan lainnya," tegasnya. Tahun lalu PGN telah menambah panjang pipa gas sekitar 1.000 km, dan mulai tahun ini hingga 2019 mendatang, PGN akan menambah panjang pipa gas buminya sekitar 1.680 km lagi.

Dilo menegaskan, PGN terus berkomitmen membangun infrastruktur dan memperluas pemanfaatan gas bumi di dalam negeri. Gas bumi merupakan energi baik bersih, efisien, dan diproduksi dari perut bumi Indonesia alias tak impor. "Semakin banyak masyarakat menggunakan gas bumi, maka akan memberikan dampak besar bagi rakyat dan negara dan mengurangi ketergantungan pada energi impor," kata Dilo.


Sumber Referensi:


Tulisan ini disumbangkan untuk jadi artikel situs Si-Nergi

Comments

Popular posts from this blog

Keadaan Lingkungan Saat Ini

Potensi Gas Alam

Kas dan Setara Kas